Rabu, 09/09/2009 08:56 WIB
Kang Aidil Heryana
Penulis: Kang Aidil Heryana
Gempa hebat yang mengguncang pekan lalu sungguh telah menghentak rasa keberagamaan kita. Rasa duka dan keprihatinan atas bencana itu makin terasa karena sebagian besar rakyat tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.
Ditambah lagi para pendakwah yang tiba-tiba banting stir merubah tema-tema ceramah dan khutbah mereka untuk merespon peristiwa dahsyat ini. Dari lontaran hujjah sekenanya sampai yang benar-benar memaparkan hikmah dengan kesiapan nazhariyah yang memadai.
Kalau diamati dengan seksama muatan ceramah berputar pada dalil-dalil yang terkesan menjadikan bencana ini sebagai azab yang diturunkan Allah kepada manusia pendosa. Kalau itu kesimpulan yang dilansir. Maka pertanyaannya adalah apakah penempatan dalil-dalil itu sudah tepat atau memang seperti itukah keinginan Allah menjadikan musibah ini.
Coba kita bayangkan kalau ada keluarga korban, kerabat atau korban sendiri yang mendengar ’penghukuman’ ini. Bagaimana perasaan meraka. Mereka bukan saja mendapat guncangan fisik akibat gempa alam tetapi juga guncangan psykologis karena ulah para ’hakim’ mimbar ini.
Kita hidup di wilayah yang memang rawan bencana. Hampir seluruh wilayah di negeri ini pernah mengalami ’kiamat kecil’ mulai dari Aceh, Padang, Bengkulu, Manokwari, Nabire, Yogyakarta, Pangandaraan. Kini ribuan rumah, gedung sekolah kembali ambruk diguncang gempa hebat pekan lalu. Tak kurang dari 83 ribuan bangunan luluhlantak di 11 kabupaten di Jawa Barat. 64 orang dinyatakan meninggal, 38 orang sampai hari ini belum ditemukan jasadnya.
Hampir tiap tahun pasti ada peristiwa yang memilukan hati dan seringkali terjadi. Artinya kondisi ini menuntut adanya penyikapan moral yang sama. Jangan umat dibiarkan terlantar dengan penafsiran sendiri-sendiri atas fenomena alam ini. Harus ada political will atau apalah dari ormas, instansi perintah atau orpol. Setidaknya dikeluarkan rekomendasi atau fatwa atau keputusan bersama dari ormas Islam, instansi pemerintah. Yang nantinya ’rumusan teologis’ ini diapakai oleh media, penggiat sosial atau utamanya para pendakwah sebagai rujukan dalam menyikapi setiap kejadian bencana serupa bila terjadi lagi.
Kira-kira fatwa ini untuk menghindari penafsiran yang cenderung menyalahkan dan menyudutkan korban bencana (blaming the victims). Atau sebaliknya penafsiran yang secara implisit sadar tidak sadar sedang terlibat dalam proses menyalahkan Tuhan (blaming God). Bukankah kita tidak berhak “mengadili” Tuhan dan hanya Dia yang berhak “mengadili” kita!
Kedua cara pandang di atas tidak ideal dan elegan karena yang pertama terjebak dalam ifrath (immoderation) dan yang kedua terkesan tafrith (negligence). Tentu penafsiran atau cara pandang yang benar adalah yang tidak masuk dalam ketegori ifrath dan tafrith. Yakni, tidak selalu bencana itu datang karena kesalahan (dosa) manusia. Buktinya, beberapa bencana justru terjadi di tengah-tengah kaum yang taat beragama seperti saudara-saudara kita di Aceh, Jawa Barat dan saudara-saudara kita di Bangladesh, Pakistan, Iran dan lai-lain.
Kalau pandangan yang menganggap bencana sebagai azab Tuhan itu benar maka sebaiknya dan seharusnya (berdasarkan skala prioritas azab Tuhan) bencana atau murka Tuhan itu ditujukan pada pemerintah Amerika dan masyarakat yang mendukungnya karena mereka jelas-jelas membuat kerusakan di maka bumi dan membunuh jiwa-jiwa Muslim Irak dan Afghanistan yang tak berdosa..
Di bawah ini kami menyampaikan tiga poin di balik falsafah bencana:
a. Penilaian yang relatif dan pengetahuan yang terbatas
Sering kali kita menghukumi sesuatu bila manfaat dan mudaratnya berkenaan langsung dengan kita. Misalnya, bila kita melewati bangunan yang sedang dibongkar lalu debu-debu yang berterbangan hinggap di telinga kita atau mampir di mata kita maka kita langsung mengecam kejadian tersebut. Padahal, kita tidak pernah tahu bahwa bangunan itu sengaja dihancurkan untuk kemudian didirikan rumah sakit yang akan banyak menolong orang-orang yang tidak mampu dan menyelamatkan jiwa manusia.
Begitu juga saat kita melihat hujan deras turun maka yang kita perhatikan adalah sejauhmana kepentingan kita terhadap hujan itu. Kalau hujan itu membawa manfaat atas sawah dan kebun kita, kota dan daerah tempat kita tinggal maka kita menyebut hujan itu sebagai “rahmat Ilahi” lalu kita pun bersyukur atasnya namun kalau tidak maka kita melabelinya dengan “azab Ilahi” atau “ujian Ilahi”.
Adalah benar bahwa manusia tidak “dapat hidup” hidup dengan menyisakan sejumlah misteri karena misteri adalah kegelapan. Dan, kegelapan adalah hal yang dibencinya. Maka saat manusia mencoba keluar dari penjara misteri ini—agar tidak terjebak dalam kesalahan yang fatal (seperti blaming God)—hendaklah ia tidak hanya bertumpu pada pengetahuannya yang terbatas.
Di samping itu, dalam menyikapi setiap peristiwa kehidupan yang besar (semacam bencana alam), hendaknya ia tidak hanya melihat dari sisi hubungannya dengan dirinya (sebagai korban bencana), tetapi selayaknya ia memperhatikan semua aspek peristiwa ini, sehingga dapat memberikan suatu kesimpulan yang benar dan terukur. Salah satu fakta yang tak terbantah adalah bahwa peristiwa-peristiwa di dunia ini ini satu sama lain—laksana mata rantai—saling terikat dan berhubungan. Peristiwa alam yang terjadi di zaman dahulu berpengaruh dan berhubungan dengan yang terjadi akan datang dan begitu seterusnya.
Karena itu, dengan hanya melihat satu peristiwa alam lalu kita memutuskan baik atau buruk peristiwa itu adalah suatu keputusan yang relatif, prematur dan tak terukur. Misalnya, dalam kasus gempa, kalau kita hanya melihat aspek buruknya maka yang tampak adalah kehancuran, kematian, kerusakan dan lain-lain.
Namun kalau sisi baik yang kita amati maka kita berusaha menyingkap pengaruh-pengaruh positif di balik gempa ini, misalnya: boleh jadi gempa ini dihubungan dengan panas bumi yang kemudian ia berdampak pada munculnya sumber-sumber minyak yang merupakan energi yang sangat dibutuhkan manusia di masa kini. Atau, boleh jadi gempa ini membawa kesuburan bagi tanah di sekitarnya. Dan masih banyak penemuan positif lainnya yang telah dan akan diungkap para ilmuwan berkaitan dengan pengaruh gempa. Maka, gempa dari satu sisi ia buruk dan dari sisi yang lain baik. Inilah yang kami maksud dengan penilaian yang relatif. Dan penilaian relatif dan keterbatasan pengetahuan kita-lah yang membuat kita terburu-buru untuk menstempel buruk terhadap setiap bencana alam.
Dan ketika kabut misteri yang mengganggu pikiran kita mulai disingkap satu persatu oleh para ilmuwan maka saat itu kita menyadari betapa Tuhan tidak pernah menciptakan atau menghancurkan sesuatu dengan sia-sia dan tanpa hikmah: “Rabbana ma khalaqta hadza bathila” ( Ya Rabb kami. Engkau tidak ciptakan (makhluk-Mu) ini dengan sia-sia).
Dan pada akhirnya kita mengakui kelemahan diri kita di atas kekuasaan Allah yang tak terbatas dan betapa sedikitnya ilmu yang kita peroleh: “Wa ma utitum minal ilmi illa qalila” (Dan kalian tidak diberi ilmu kecuali sedikit). QS. Al Isra: 85
b. Terkadang bencana membengunkan manusia dari kelalaian
Saat seorang teman dekat kami datang dari menjenguk saudara-saudara kita di Aceh, kami menanyakan kepadanya perihal keadaan di sana. Lalu dia bertutur bahwa suasana islami begitu kental di sana. Dan yang menarik lagi, ada seorang korban tsunami yang selamat—setelah terbawa puluhan kilo ke tengah laut—bercerita kepadanya: Saya benar-benar “melihat” Allah dalam peristiwa itu. Maaf pak Ustad, saya sebelumnya biasa meninggalkan shalat. Namun pasca tsunami, hati saya bergetar kalau tidak shalat. Dapat dikatakan, saya sebelumnya “ahli preman” dan sekarang mencoba menjadi ahli iman. Demikianlah pengaruh musibah ilahi dalam membangkitkan keimanan seseorang. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Kami siksa mereka dengan bencana dan kesulitan agar mereka merendah diri (kembali kepada Allah).” (QS. Al A `am: 43)
c. Adakalanya cobaan itu untuk mendidik manusia
Dalam situasi sulit dan tidak bersahabat terkadang tekad dan keinginan manusia semakin membaja dan membara dalam menghadapi tantangan hidup guna merealisasikan tujuannya. Adalah hal yang tak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia dibangun atas dasar “banting tulang dan cucuran keringat, bahkan darah”. Misalnya, peperangan demi peperangan yang dialami suatu bangsa dari satu sisi tampak negatif karena ia menelan banyak korban jiwa dan meterial yang besar.
Namun di sisi lain, peperangan yang panjang membuat negara bersangkutan menjadi negara yang kuat dan siap pantang mundur menghadapi berbagai cobaan hidup. Karena peperangan, komunitas anak bangsa yang sebelumnya tercerai-berai menjadi bersatu dan bekerja sama serta bahu membahu dalam mempertahankan tanah air. Bahkan boleh jadi orang-orang yang tadinya pengecut pun kini menjadi berani. Inilah dampak positif dari peperangan. Namun kami pun tidak mengingkari dampak negatifnya, misalnya, timbulnya rasa putus asa dan frustasi serta ketakutan yang dialami oleh sebagian orang dalam suasana perang. Hanya perlu digaris bawahi bahwa dampak positif yang telah kami sebutkan adalah sesuatu yang tak dapat dipungkiri.